Dalam langit yang bersih dan biru, aku sudah berjanji melupakan dan menutup hatiku. Karena itu aku mulai berproses melupakanmu. Aku tahu ini sulit juga rumit dan aku sudah kebal dengan apa itu sakit. Mendadak aku ingin sendiri, mengetuk pintu Tuhan dan lantas membuat bel-bel kecil agar dapat didengar. Karena itulah, aku mulai lengah di suatu perkumpulan, aku takut tiba-tiba ada dirimu, atau suaramu atau juga angin yang membawamu. Aku juga takut membuka jejaring sosial, takut menemukan wajahmu juga goresan tanganmu. Ini dapat mengganggu proses “melupakan” itu. Aku serius akan melupakanmu, karena Tuhanku lebih tau, kapan waktu yang tepat, apa cerita cinta yang lekat, juga proses ke pelaminan yang sehat. Tuhanku sangat mengetahuinya, karena itulah aku melupakamu.
Langganan:
Posting Komentar (Atom)
0 komentar:
Posting Komentar