Tiada hal yang lebih
berani untuk mengobati sakitnya ketakutan selain melawan dan bertahan.
Tersebab kita bukan manusia maha hebat yang tidak punya ketakutan. Tersebab
ketakutan selalu menyisakan ruang yang asing dalam batin kita. Meski
ketakutan tidak melulu tentang seorang pengecut. Meski ketakutan tidak
melulu soal ketidak-bisaan. Meski kita sepenuhnya menyadari bahwa pada
hakikatnya ketakutan hanyalah tipu daya emosi.
Aku akan mengenang
saat-saat itu. Waktu aku –ataupun engkau- mencari alasan-alasan kecil untuk
menghindari si takut. Mencipta jarak sejauh mungkin, menipiskan kesempatan
berjumpa. Bukan untuk menipu diri. Apalagi melari dari si takut lalu
menelangsakan diri. Karena bagiku, pengertianmu tentang aku yang tidak
baik-baik saja membuatku menyerah. Menjadi orang tak berdaya yang siap menjadi
tawananmu kembali –memang sejak kapan aku lepas dari penjaramu ?-
0 komentar:
Posting Komentar